Sinopsis Novel Surat Kecil Untuk Tuhan

Penulis: Agnes Davonar
Penerbit: Inandra Published
Tahun Pertama terbit: 2008
Jumlah Halaman: 232

  
Buku ini mengisahkan ulang cerita pilu seorang gadis bernama Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika. Ia terkena penyakit yang terbilang langka bernama Rabdosmiosarkoma atau yang dalam bahasa awam dikenal dengan nama kanker jaringan lunak. Keke sendiri merupakan pasien pertama di Indonesia yang terdeteksi terkena penyakit tersebut. Hal ini yang menjadikan kisahnya sangat menggugah. Keke divonis terjangkiti penyakit tersebut di usia 13 tahun dan hanya dalam jangka waktu 5 hari saja! Kanker jaringan lunak tersebut perlahan merubah wajah belia keke. Ia menjadi seseorang yang tak dikenali lagi sebab wajahnya menjadi sesuatu yang tak elok dipandang mata. Bagi anak-anak, mungkin wajah keke tersebut akan dipanggilnya rupa monster.

Buku ini didasarkan pada kisah nyata. Sang penulis mengemas perjuangan keke melawan penyakit kanker tersebut dengan baik. Meskipun pada beberapa bagian ia terlalu memaksakan pesan moral masuk pada dialog beberapa tokoh sehingga mengacaukan setting. Namun, toh, buku ini tetap memberi spirit utamanya bagi generasi muda bahwa seberapapun cobaannya, kita harus berani berdiri dan menghadapinya.


Perjuangan keke sempat berbuah manis, sebab tim dokter berhasil menyembuhkan penyakitnya. Hal ini menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi dunia kedokteran di Indonesia pada saat itu dan menjadi buah bibir di Negara lain. Banyak yang bertanya bagaimana bisa penyakit ganas tersebut ditaklukkan. Polemik tersebut akhirnya mendapat jawaban, sebab keke hanya “sembuh sementara”. Beberapa saat setelah ia menjalani pengobatan, kanker ganas itu bertamu kembali dan sekali lagi menyerang tubuh dan semangatnya. Keke pun menyadari, waktunya hidup tak bisa diulur lagi dengan obat dan lain-lainnya. Benar saja, ia meninggal pada tanggal 26 Desember di tahun 2006. Sebelum meninggal, ia sempat menuliskan surat. Surat ini kemudian yang mengilhami pemilihan judul “Surat Kecil Untuk Tuhan”. Berikut petikan surat keke tersebut:

Andaikan,….. semua dapat terulang kembali,
Tetapi pernahkah anda berfikiran tentang itu?
Pernahkah anda mengira-ngira apa yang akan terjadi
Jika semuanya dapat terulang kembali?
Dalam novelnya ini, Agnes Davonar menekankan makna sebuah waktu dalam kehidupan di dunia ini.
Kisah nyata gadis berusia 13 tahun bertahan hidup dari kanker ganas paling mematikan di dunia.


Tuhan …………..
Andai aku bisa kembali
Aku tak ingin ada tangisan di dunia ini
Tuhan …………
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku
Terjadi pada orang lain
Tuhan ……………
Bolehkah aku menulis Surat Kecil Untuk-Mu?
Tuhan …………….
Bolehkah aku memohon satu hal kecil pada-Mu?
Tuhan ………………
Biakanlah aku bisa dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya
Jika ditelaah, buku ini memang menarik. Bukan hanya berbicara persoalan derita seseorang, tetapi juga memperlihatkan sebuah perjuangan sekaligus kepasrahan pada Sang Pencipta. Penulis novel ini berhasil menyampaikan kisah keke dengan baik. Selain keke, tokoh lain di dalam kisah ini antara lain ayah Keke sendiri, sahabat-sahabat keke yakni Fadha, Maya, Shifa, ida dan Andhini, ada pula Dr. Adhi, Dr. Mukhlis, Andi, Pak Iyus. Karena ini berdasar pada kisah nyata, maka tokoh tersebut semua nyata. Mungkin hal ini yang membuat watak para tokoh tergambar dengan jelas.

Secara umum, novel ini layak untuk dibaca. Alur yang digunakan adalah campuran yakni maju dan mundur. Sementara itu setting cerita antara lain rumah Keke, sekolah, rumah sakit dan juga beberapa potongan kejadian di sebuah villa. Penulis menggunakan sudut pandang cerita orang pertama. Jadi saat membaca buku ini kita seolah sedang mendengarkan Keke bercerita kisahnya sendiri. Adapun pemilihan bahasa yang dipakai penulis cukup ringan sehingga novel ini bisa dibaca untuk umum. Novel ini juga banyak menyisip nilai moral dan nilai agama. Tentu hal ini merupakan pembelajaran yang baik bagi pembaca.

Sinopsis novel Surat Kecil Untuk Tuhan ini hanya membahas unsur-unsur yang penting dalam kisah ini. Untuk kesan yang lebih mendalam, tak ada salahnya jika Anda meluangkan waktu untuk membaca keseluruhan novel tersebut. Ia layak untuk dibaca pun diresapi maknanya. Selamat membaca ya!


Pagi itu aku masih saja duduk termenung di depan bangunan tua itu. Terlintas rasa tak percaya bahwa sekarang kau tak bersama ku lagi. Kau rela meninggalkanku dan melupakanku hanya untuk mengejar cinta yang lain. Tak sadarkah kau telah berapa banyak waktu yang kita lewati bersama. Kita pacaran sudah 5 tahun. Tak berarti kah itu bagimu. Hanya sekejap mata kau melirik ke tempat yang lain. Bulsit cintamu itu.
Bulsit.. bulsit.. itulah kata-kata yang selalu keluar dari mulutku. Betapa muaknya aku melihat sikapmu itu. Tak sadar olehku saat itu aku di kejutkan oleh suara yang tak asing bagi telingaku.
Re… aku senang banget akhirnya aku bisa juga jadian sama Nawan? Tutur Wisya.
Nama itu yang membuatku geram. Betapa teganya dia merebut pacaraku. Bagiku dia sahabat sejatiku. Namun ternyata dia hanya sahabat makan sahabat.
Semenjak pagi itu aku menutup mataku untuk tidak mengenal mereka berdua lagi. Sahabat penghianat dan mantan pacar yang tergiur akan kecantikan.
Cerpen Akhir Cerita Cinta Seorang Wanita Muslimah
Hari ini, hari pertama ku menginjakkan kaki ku di Universitas. Telah aku tanamkan di benakku untuk tidak mengingat lelaki itu dan dalam hatiku berharap agar aku tidak satu Universitas dengannya. Namun tuhan berkehendak lain. Aku satu Universitas dengan Nawan dan Wisya. Aku berusaha untuk lari dari hadapan mereka. Namun, tak dapat aku hindarkan mereka sudah berada di depan mataku. Terpaksa aku sok-sok baik dengan mereka.
Hey… tuturku malas.
Hey juga Re. Gak nyangka ya kita satu Universitas juga.
Hemz… itu kata-kata terakhir yang aku ucapkan. Lalu aku berlalu dari mereka.
Yang hebat lagi yang membuat aku sok pagi-pagi begini. Buaya itu juga satu jurusan dengan aku. Betapa sialnya hidupku hari ini.
Rere masih marah ya sama aku. Tanya Nawan.
Menurut lo? Singkat jawabku.
Ok. Aku minta maaf. Habisnya kamu sih gak pernah ngerti aku. Dan gak mau nurutin keinginan aku. Ya jadinya aku cari yang lain aja. Tuturnya lagi.
Oh ya. Ini buat lo. praKkkK.. tamparan yang aku berikan kepadanya.
Why? Aku di kasih tampar. Dasar ya cewek udik gak ngerti pacaran.
praKkkk. Tampar untuk kedua kalinya.
Aku meninggalkannya. Tak kuat rasa hatiku mendengar ucapan lelaki bangsat itu.
Aku tau waktu pacaran tak pernah aku berikan apa-apa dengannya. Ciuman saja tak pernah aku berikan kepadanya. Itu semua aku lakukan karna aku menjunjung adat ku. Dalam agama islam ciuman itu merupakan perbuatan yang mendekati Zina. Dan lagi pula alasan aku tak mau pacaran yang berlebih. Karna aku tak ingin memberikan sisa orang kepada suamiku nanti. Namun Nawan tak mau mengerti. Dia menganggap aku udik dan tak tahu bagaimana pacaran itu sebenarnya. Tapi bagi ku biarlah. Mungkin Nawan bukan lelaki yang baik untukku. Sekarang biarlah dia pacaran dengan Wisya. Semoga apa yang dia inginkan selama ini dapat dia dapat di Wisya. Semoga saja nanti ada lelaki yang bisa menerima aku apa adanya dan bisa menerima semua keinginanku ini.
Karna terlalu lama berpikir aku tersentak oleh suara yang sangat asing bagiku.
Jangan melamun. Gak baik tau. Tuturnya.
Oh, gak melamun kok. Oh ya who are you?
Fajar. Kalo kamu?
Rere. Nice to meet you.
Nice to meet you too. Ngomong-ngomong kenapa melamun sih? Ada masalah? Tanya Fajar padaku.
Gak ada masalah kok. Tuturku datar.
Ya udah kalo gitu. Fakultas apa? Dan jurusan apa?
Fakulas Ilmu Budaya dan jurusan Sastra Daerah. Kamu sendiri? oh ya ngomong-ngomong organisasimu apa disini? Tanyaku lagi.
Aku jurusan Farmasi. Aku anak Ukmi.
Oh calon-calon pendakwah gitu ya?
Insyaallah. Tuturnya lagi.
Ya udah aku masuk duluan ya. Tuturku sambil beramitan.
Yupz, Assalamualaikum.
Waalaikum salam. Tuturku.
Masya allah. Santun sekali lelaki itu. Tuturnya lemah lembut dan subhanallah gantengnya. Coba Nawan kayak dia. Aduh kenapa mikiran lelaki itu lagi sih. Buang jauh pikiranmu dari lelaki itu Re… Tuturku dalam hati.
Semenjak pertemuan itu hatiku semakin tergugah untuk bisa berteman dengan lelaki itu. Tapi dalam pikiranku apakah mau dia berteman denganku. Sedangkan aku saja tak pernah menggunakan jilbab. Apa dia mau berteman. Tapi sudahlah aku coba dulu untuk mendekatinya. Mana tahu dia bisa membantuku untuk menjadi wanita muslimah yang sejati.
Pagi-pagi aku sudah melihatnya berkumpul dengan teman-teman se-jurusannya. Gugup rasa hatiku untuk mendekatinya. Baru saja mau melangkah pergi. Dia malah memanggilku.
Ukhti.. tunggu… ukhti mencari saya? Tanyanya.
Sebenarnya iya. tapi sudahlah. Lanjutkan saja urusan kamu dengan teman-temanmu. Tuturku lagi.
Tidak apa-apa ukhti. Ada yang bisa saya bantu? Tanyanya lagi?
Kamu mau gak berteman dengan saya dan mau gak menuntun saya untuk menjadi wanita yang sesungguhnya wanita?
Alhamdulillh. Saya mau ukhti. Dengan senang hati saya akan membantu ukhti.
Terima kasih ya. Aku masuk dulu.
Baiklah. Assalamualaikum.
Waalaikum salam. Jawabku lagi.
Betapa senangnya aku bisa berteman dengan calon ustad. Tak tersadar olehku selama perjalanan ke kelas aku hanya tersenyum-senyum sendiri.
Lo kenapa Re? Tanya teman baruku namanya Nini.
Gak kenapa-kenapa kok. Lagi senang aja. Tuturku datar. Ya udah masuk yuk!!!
Ayo la.
Belum lagi masuk kedalam kelas aku sudah di kejutkan oleh peragaan mesra yang di tampilkan oleh Nawan dan Wisya. Mereka sengaja memanas-manasin aku. Tapi aku berusaha untuk sabar dan sabar. Aku tak menghiraukan kelakuan mereka. Langsung saja aku masuk ke dalam kelas.
Ketika waktu jam pelajaran berakhir. Aku langsung menyibukkan diriku dengan membaca buku–buku tentang ajaran islam yang tentang bagaimana wanita Islam beperilaku. Tak tersadar oleh ku dari tadi ada seseorang yang memperhatikanku. Ku coba untuk menoleh ternyata lelaki itu adalah Fajar.
Subhanallah. Awal yang baik. Tuturnya.
Hehehehe. Jawabku.
Kok ketawa sih. Ini semua bangus tau. Saya senang dengan perubahan kecil ini. Saran saya sebaiknya ukhti menggunakan jilbab.
Aku belum bisa.
Why?
Aku belum siap. Aku takut nanti membukanya lagi. Aku mau memakai jilbab jika hatiku sudah benar-benar kuat dan takkan tergoyangkan lagi.
Baiklah. Oh ya ukhti. Bolehkah sekiranya saya bertanya tentang sesuatu yang bersifat pribadi?
Boleh. Tentang apa?
Seringkah ukhti sholat?
Masih bolong-bolong.
Masya allah. Sholatlah ukhti. Karna sholat itu dapat menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar. Dan satu hal lagi. Taukah ukhti kenapa islam menganjurkan wanita untuk memakai jilbab?
Tahu.
Terus kalo tahu kenapa tidak di pakai?
Kan sudah di bilang tadi aku masih mau menguatkan hatiku dulu. Jika sudah pasti maka aku akan memakainya.
Baiklah. Saya akan tunggu masa itu. Yang kedua, apakah ukhti pernah pacaran?
Pernah. Bahkan sudah 5 tahun. Dan sekarang sudah kandas.
Ukhti ngapain aja selama pacaran?
Aku gak pernah ngapain-ngapain, bahkan pacarku memutuskanku gara-gara aku tak mau di cium sama dia.
Baguslah jika ukhti belum pernah di apa-apaka oleh lelaki lain.
Emangnya kenapa?
Karna jika ukhti pernah di apa-apakan. Kasian sama suami ukhti nanti. Dapat bekas orang.
Itulah yang tidak aku inginkan. Makanya aku tak mau pacaran yang melakukan hal-hal yang tidak baik.
Baiklah ukhti. Sekarang waktunya saya pergi. Saya harap ukhti tidak merasa tersinggung dengan ucapan saya. Beginilah saya. Assalamualaikum.
Tidak apa-apa kok. Waalaikum salam.
Lelaki yang baik dan sempurna. Bahagianya jika aku bisa menjadikan dia suamiku. Pasti rumah tanggaku akan selalu di pancarkan oleh sinar kesucian. Aku tergugah dengan kata-katanya. Aku akan berusaha untuk merubah semuanya. Semoga saja bisa berjalan lancar.
Hari ini aku datang ke kampus dengan penampilan yang sangat berbeda. Rambut yang selama ini aku ikat. Kini tersimpan di dalam jilabab. Baju yang dulu selalu sempit di badanku, kini berubah menjadi pakaian yang menutupi tubuhku. Hingga orangpun tak bisa melihat lekuk-lekuk tubuhku.
Sudah lama rasanya aku tidak bertemu dengan fajar. Semenjak hari itu. Aku tak pernah melihat bayang-banyaknya di tempat aku kuliyah.
Aku langsung saja masuk ke kelas untuk bertemu dengan Nini.
Ni lo ada liat gak Fajar yang sering aku ceritain sama lo?
Kemarin sih pernah liat. Tapi sekarang aku gak pernah liat lagi. kenapa sih?
Gak kenapa-kenapa. Cuma mau konseling aja sama dia.
Oh ya Re aku ada denger berita lo tentang fajar.
Berita apa?
Aku dengar-dengar dia mau ta’arufan sama seorang wanita?
Ta’arufan. Whit whom?
I do know.
Perih rasanya batinku mendengar berita itu. Hancur sudah harapanku. Ingin memiliki lelaki yang baik, namun sudah mencintai orang lain.
Nasib!!
Kok nasib sih Re? Why Re?
Nothing.
Kayaknya lo sedih deh tahu tentang berita ini. Jangan–jangan lo suka ya ma ustad itu? ayo ngaku?
Lo apaan sih. Mana ada aku suka sama dia. Lagian aku ini bukan tipe dia Nini. Dia itu suka sama perempuan yang bener-bener muslimah. Bukan kayak aku. Wanita yang baru tobat begini.
Tapikan lo punya perasaan lain sama dia. Itu tandanya lo lagi jatuh cinta sama ustad.
Mungkin kali ya. Ya udah deh, sekarang dia lagi ta’arupan. Jadi aku buang aja deh harapan ini.
Huhu… udah jangan sedih begitu Re. Mungkin belum jodoh dan mungkin ada lelaki yang lebih baik lagi buat lo dari pada fajar. Lo yang sabar aja ya.
Ya deh.. tuturku lagi.
Di kamarku. Aku merintih. Aku ingin rasanya di cintai oleh Fajar. Dan besar harapanku agar ta’arufan Fajar tidak berjalan mulus. Tapi perasaan itu aku coba untuk menghilangkannya dari pikiranku. Setelah lama aku melamun. Aku tersentak dengan suara ketukan pintu dari luar. Dan terdengar suara mama dari luar.
Sayang. Ada tamu. Keluar sebentar dan jangan lupa memakai jilbabmu.
Baik mama. Tuturku lagi.
Aku keluar dari kamar dan aku lagi-lagi di kagetkan oleh sesuatu. Tamu yang datang adalah Fajar dan keluarganya. Betapa bahagianya rasa hatiku.
Assalamualaikum.. tuturku.
Waalaikum salam. Tutur mereka semuanya.
Sayang maksud mereka ke sini untuk ta’arufan denganmu. Mama udah mendengar semuanya. Sekarang tinggal kamu. Mau atau tidak.
Menurut mama dan papa. Bagaimana. Rere serahkan semuanya sama mama dan papa.
Kalau begitu kita terima ya.
Ya ma..
Alhamdulillh. Kata fajar dan keluarganya.
Bagaimana jika sekarang kita melakukan akad nikahnya. Kamu siap nak fajar? tanya papa Rere.
Insyaallah siap pak.
Alhamdulillh. Ayo kita lakukan.
Setelah semuanya selesai. Sekarang aku sudah syah menjadi istri fajar dan siap menyerahkan jiwa dan ragaku untuk suamiku tercinta. Aku membuat kesimpulan tentang cinta. Tak perlu menjalin hubungan selama bertahun-tahun, namun akhirnya tak bisa bersatu. Namun hanya cukup waktu satu bulan untuk saling mengenal dan berakhir dengan sebuah pernikahan yang abadi.

Arti “Sahabat” Sesungguhnya Setelah Membaca Kisah Ini

” tiada kasih yang lebih abadi daripada pemberian seorang sahabat  yang sempurna- tidak akan mati walau ia pergi untuk selamanya dalam hidup kita” Agnes Davonar



Aku tidak pernah berpikir kalau hidupku masih bisa bernafas setelah kecelakaan tabrakan mobil yang membuatku koma selama 1 bulan lamanya. Istriku Angel berkata padaku, bahwa Tuhan masih sangat mencintaiku sehingga ia memberikan aku satu kehidupan baru dalam hidupku. Selama proses pemulihan aku hanya bisa duduk terbaring di kursi roda untuk melakukan aktifitas, sebagai anak tunggal satu-satunya dalam keluargaku, ayah dan ibu sangat mencintaiku.
Hidupku terlahir dengan kekayaan berlimpah, istriku cantik dan sejak kecil aku terbiasa dimanjakan sebagai anak orang kaya. Aku bersekolah di Australia saat lulus dari SMA dari Jakarta, menjadi orang kaya tidak membuatku dapat memiliki sahabat karena sifatku yang pendiam terlebih kata ibu sejak kecil aku mempunyai jantung yang lemah. Tidak heran mereka selalu mencemaskan keadaanku yang tidak pernah aku pikirkan, lucunya aku baru tau jantungku membusuk saat kecelakaan itu terjadi.
Aku duduk di teras rumahku yang menghadap ke laut Jawa dan memilih tempat itu sebagai masa penyembuhan dan rehabitasiku. Istriku sedang membuatkan aku segelas susu dan aku tanpa sengaja melihat sebuah buku novel tergeletak di meja teras, mungkin saja istriku baru membacanya dan menaruhnya disana. Aku membuka lembaran itu dan terselip sebuah foto antara aku, istri dan seorang sahabat yang telah lupa dalam ingatanku bernama Fernando.
Bukankah ini foto saat kami berada di Australia, Fernando berkerja sebagai pelayan kafe dan saat itu aku, istriku dan dia berfoto bersama saat berdiskusi. Istriku datang dan menghampiriku sembari meletakkan segelas susu di meja.
“ Mengapa foto ini ada disini sayang?” tanyakuIstriku terkejut, mungkin karena ia takut gambar itu membuat aku teringat masa lalu.“ Maaf aku tidak sengaja menemukan novel itu dari kiriman pos seseorang dan ketika membukanya terdapat foto kita semasa kuliah.”Aku terdiam, istriku langsung seperti salah tingkah.“ Ngomong-ngomong sekarang dimana Fernando, bukannya terakhir kita masih melihatnya saat bulan madu di Perth?”
Istriku terdiam, suara telepon tiba-tiba berdering dan dia langsung meminta izin untuk mengangkat. Aku hanya bisa mengenang foto kenangan itu, Fernando adalah sahabat pertama yang menjadi temanku saat aku nyaris mati karena kedinginan terserang hujan deras, ia bukan laki-laki beruntung seperti hidupku. Bahkan untuk menyambung hidupnya ia harus bekerja sebagai pelayan restoran, aku berterima kasih padanya karena berkatnya aku masih bisa hidup sampai detik ini.
Berkatnya juga aku bisa mengenal istri yang kucintai saat ini, persahabatan kami baik-baik saja hingga sebuah tragedi terjadi dalam hidup kami. Suatu ketika semua orang mempergunjing aku di kampus dan mengatakan aku seorang gay karena terlalu dekat dengan Fernando. Terang saja aku marah, kami normal dan dekat karena dialah satu-satunya sahabatku di Australia dan aku bahkan rela menghajar orang-orang yag menjelek-jelekkan sahabatku itu. Tapi pertanyaan it u terus menghantuiku, sebagian dari sahabatku memang pernah berbisik kalau sahabatku itu gaytapi Angel tidak pernah mengatakan begitu walaupun mereka sudah mengenal sebelum hadirnya aku.
Tapi hidup memang pahit, di mataku sendiri Fernando berciuman dengan sesama pasangan gay-nya. Aku hancur dan malu memiliki sahabat seperti dia, ada yang aneh ketika melihatnya berbuat demikian. Sidney memang kota bebas bagi gay, tapi tidak buat aku. Aku melupakan semua kebaikan yang pernah dia berikan padaku, jijik rasanya aku melihat monster itu hidup bersamaku selama ini. Aku tau Fernando melihatku memergokinnya saat itu, ia panik dan meminta maaf karena selama ini tidak jujur dengan statusnya, hal terakhir yang kudengar dari mulutnya adalah
“ Aku mungkin gay, tapi aku bukanlah monster yang ada disampingmu selama ini. Bagiku siapapun boleh menganggap aku manusia hina tapi janganlah kau sahabatku, karena kaulah satu-satunya sahabat dalam hidupku yang yatim piatu tanpa siapapun”
Aku tidak tergoda oleh kalimat itu walau terasa menyedihkan, kutinggalkan Sidney saat itu juga dengan membawa Angel pindah ke Perth. Aku tau Angel ingin menyarankan aku untuk menerima kenyataan tapi hatiku membeku dan tidak sudi memiliki sahabat gay dan menjijikkan seperti dia. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya seperti yang aku katakan sebelumnya kami kembali bertemu saat aku sedang berbulan madu bersama istriku tepatnya 3 tahun setelah kami berpacaran di sebuah restoran mewah ketika Fernando mulai menjadi koki di restorant itu.
Aku sadar ini saat terakhir aku berjumpa dengannya, karena aku akan kembali ke Jakarta. Saran istriku padaku untuk setidaknya mengucapkan kata perpisahan dengannya aku turuti, aku pun mengundangnya minum kopi bersama sebagai sahabat lama walaupun di hatiku tidak pernah mau memaafkan statusnya sebagai gay. Kami bicara seadanya tentang hidup kami , dia mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Dan kami pun berpisah, ketika pulang aku tidak mengingat semuanya selain sebuah mobil menabrakku dan aku pun koma hingga tidak sempat mengingat Fernando.
Istriku kembali, dengan wajah sedikit senduh dia duduk di sampingku.
“ Sayang, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang foto itu”“ Tidak ada selain pertanyaan ke mana Fernando saat ini?”
Istriku menunduk sambil berkata “ Dia ada disini..”. Aku menjadi bingung,“ Maksudmu apa?”“ Fernando tidak akan pernah ada di dunia ini lagi, tapi dia akan selalu ada di sini, tepatnya di jantung yang kamu miliki saat ini.”“ Aku tidak mengerti maksudmu?”
Istriku menangis sambil bercerita, di saat-saat terakhir usai kecelakaan terjadi. Orang yang membawaku ke rumah sakit adalah Fernando, Dokter mengatakan bahwa jantungku sudah tidak berfungsi. Aku hanya memiliki waktu sedikit untuk tetap hidup dan dokter menyarankan Fernando mencari donor jantung. Istriku Angel begitu terkejut dengan berita kecelakaan itu, ia menangis di samping Fernando. Tidak mungkin mencari jantung yang tepat dalam waktu saat kondisi kritis seperti ini.
” Fernando, sebentar lagi Anthony akan menjadi seorang ayah, aku tidak lagi sanggup hidup bila bayi dalam kandunganku ini tidak memiliki ayah..” ujar Angel.
Fernando tersenyum dan berkata
“ Percayalah kalau Anthony ( namaku) akan tetap hidup di samping kamu untuk selamanya”
Itulah kata-kata terakhir dari istriku, Fernando mendekat pada dokter dan berkata ia mau mendonorkan jantungnya padaku. Dokter terang saja menolak keinginan Fernado karena tidak ada hukum yang mengizinkan orang sehat untuk berbuat demikian. Fernando tidak putus asa, baginya hidupnya yang sebatang kara tidak akan memiliki masa depan terlebih tak akan ada seorang pun yang peduli padanya. Ia dengar kalau hanya orang yang sekarat boleh mendonorkan dirinya, sahabatku melakukan tindakan bodoh.
Sesaat sebelum kematiannya ia menelepon Dokter dan mengatakan bahwa seseorang donor yang bersedia menyumbangkan jantungnya. Dokter bertanya siapa orang itu,  dengan tersenyum dibalik telepon Fernando berkata “ Saya menunggu anda di belakang rumah sakit, jantung ini hanya bisa bertahan selama beberapa saat, saya mohon dokter kemarilah dalam waktu 10 menit.” Dengan berani Fernando menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang lewat, dia mengorbankan dirinya untuk menjadi donor dalam keadan sekarat.
Angel menerima kabar itu usai operasiku berjalan lancar saat itu ia hendak bertanya sosok donor yang menyumbangkan jantungnya dan berpikir untuk mengucapkan terima kasih pada keluarga, dokter mengatakan sang donor adalah Fernando. Angel tidak mungkin mengatakan kejadian itu padaku, ia hanya ingin menunggu saat yang tepat dan saat inilah aku tau. Aku hanya bisa menangis di atas makam sahabatku. Entah bertapa bodohnya aku tidak pernah mengerti arti sahabat dalam kehidupanku. Kalau saja saat itu aku memaafkan apa yang terjadi mungkin tidak akan ada penyesalan dalam hidupku.
“ Dia sahabat yang tidak hanya menolong hidupku satu kali tapi dua kali, bukanlah dia yang seharusnya meminta maaf tapi akulah yang meminta maaf tidak pernah mengerti bertapa dia adalah sahabat sejati dalam hidupku, aku terlalu egois mengatakan bahwa dia gay dan dia adalah petaka dalam hidupku. Mungkin kata dia terakhir padaku tidak akan pernah terlupa dalam ingatanku, ia memang gay tapi ia bukanlah monster yang akan mencintai sahabatnya sendiri.”
Aku tidak akan pernah melupakan hal ini, walaupun hidupku berjalan dengan waktu, semoga kisahku tidak membuat kalian menjadi seperti aku. Ingatlah sahabat itu hadir dalam hidup kita tanpa pernah kita sadari bahwa sejatinya tidak ada manusia yang sempurna dalam hidup ini. anakku terlahir beberapa bulan kemudian dan untuk mengenang sahabatku, keberikan nama Fernando padanya.
Gay, lesbi , pria buta, wanita bisu mereka adalah manusia yang memiliki hati untuk mencintai dan kasih dalam persahabatan. Setidaknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat

tamat
semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi siapa saja. follow my twitter

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme